Sabtu, 17 April 2010

BPR jadi pengaman usaha sektor mikro

SURABAYA - Keberadaan bank perkreditan rakyat (BPR) masih tetap diperlukan untuk menopang kinerja sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor mikro. BPR masih menjadi alternatif sumber pembiayaan bagi sektor mikro kendati bank-bank umum terus berekspansi di sektor tersebut.

Ketua Persatuan BPR Se-Indonesia (Perbarindo) Jatim FX Soegeng Notodiharjo mengatakan, wilayah usaha BPR masih sangat luas dan menjangkau sampai ke pelosok desa. Tentu tidak semua wilayah bisa dijangkau bank umum yang berekspansi di sektor tersebut.

”Ini yang membuat BPR terus bertahan dan selalu dibutuhkan. Jelas bahwa tidak semua wilayah dapat dijangkau bank-bank umum,” ujar Soegeng kepada kabarbisnis.com di Surabaya, Kamis (18/6/09).

Kondisi tersebut bisa menghindarkan sektor mikro dari jerat kredit dari rentenir yang sangat mencekik, yang bunganya bisa mencapai 20% per bulan. Tentu saja sektor mikro akan sangat kesulitan dengan bunga sebesar itu.

”Selain itu, BPR mempunyai kedekatan emosional dengan nasabahnya karena antara nasabah dan pemilik BPR sudah saling kenal akrab. Ini yang jarang dimiliki bank umum,” ujarnya.

Karena itu, dia yakin kinerja BPR akan tetap terjaga di tengah kepungan bank-bank umum yang berekspansi di sektor mikro dan kecil, seperti Danamon Simpan Pinjam (DSP), BTPN Mitra Usaha Rakyat, dan sejenisnya.

Sebelumnya, Pemimpin Wilayah Bank Danamon Surabaya Efrain Macpal kepada kabarbisnis.com mengatakan, manajemennya tidak akan membangun unit DSP baru.

”Saat ini kami akan fokus saja mengembangkan unit yang sudah ada,” jelasnya.

DSP adalah unit mikro Danamon yang fokus berekspansi ke sektor mikro, bahkan hingga ke pasar-pasar tradisional dengan jumlah pedagang minimal 700 orang. Penyaluran kredit DSP per kuartal I/2009 mendaki 20%, mencapai Rp10,97 triliun atau 17% dari total kredit Danamon. kbc9/kbc2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar